Rabu, 29 Februari 2012

Kontrak Hidup

Vuideo I


 Video II

Sahabat, dikisahkan bahwa malaikat maut (Izrail) bertemu dengan Nabi Sulaiman AS. Ia datang dengan bentuk manusia sehingga tak seorang pun yang mengetahui kedatangannya selain Nabi Sulaiman. Saat itu Nabi Sulaiman sedang berkumpul dengan beberapa orang sahabatnya. Saat malaikat maut hendak pergi ia memandang salah seorang sahabat Nabi Sulaiman dengan pandangan yang aneh, lalu pergi.

Setelah malaikat maut pergi, sahabat Nabi Sulaiman itu bertanya, "Wahai Nabiyullah, mengapa ia memandangiku seperti itu?" Jawab Nabi Sulaiman, "Ketahuilah, dia itu adalah malaikat maut."

Kemudian sahabat Nabi Sulaiman itu berkata, "Wahai Nabi, tiupkanlah angin dengan kencang, sehingga angin itu membawaku ke puncak negeri India, sesungguhnya aku berfirasat buruk."

"Apakah engkau akan lari dari takdir jika maut akan menjemputmu?" tanya Nabi Sulaiman. "Sesunguhnya Allah memerintahkan kita untuk mencari sebab-sebabnya. Dan, aku yakin bahwa engkau akan mengabulkan permintaanku." kata sahabat Nabi Sulaiman itu. Kemudian, Nabi Sulaiman memerintahkan kepada angin untuk membawanya ke tempat yang diinginkan.

Selang beberapa saat malaikat maut datang, Nabi Sulaiman bertanya, "Apa urusanmu dengan salah seorang sahabatku, mengapa engkau pandangi dia seperti itu?"

Malaikat maut menjawab, "Aku memandanginya seperti itu dikarenakan ia tercatat didaftar kematian bahwa ia akan mati di sebuah negeri di India. Aku heran, bagaimana ia dapat pergi ke sana sedangkan ia ada bersamamu? Kemudian, di tempat yang telah ditentukan, pada waktu yang telah digariskan kulihat ia datang kepadaku dan kucabut nyawanya."

Kisah di atas mengingatkan kepada kita bahwa malaikat maut akan selalu mengintai siapa saja yang masa kontraknya akan berakhir di dunia ini. Jika masa kontraknya habis maka tak seorang pun dapat lari darinya. ".… Maka, apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS al-A'raf [7]: 34).
Dalam ayat lain Allah SWT menegaskan, "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya." (QS Qaf [50]: 19).
Lari kepada dokter bila sakit menimpa, lari kepada makan bila rasa lapar datang, lari kepada minum bila rasa haus menghampiri. Lalu, lari kepada siapa bila kematian akan menjemputmu?

Sungguh, tak seorang pun dapat lari darinya sekalipun berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (QS an-Nisa' [4]: 78).

Oleh karena itu, sebelum masa kontrak berakhir, "Bersegeralah kamu beramal sebelum datang tujuh perkara: kemiskinan yang memperdaya, kekayaan yang menyombongkan, sakit yang memayahkan, tua yang melemahkan, kematian yang memutuskan, dajjal yang menyesatkan, dan kiamat yang sangat berat dan menyusahkan." (HR Tirmidzi)

Wallahu a'lam.

Minggu, 26 Februari 2012

Ridho Allah tergantung pada Ridho kedua Orangtua




"Silakan Putar Vedio Ini"

RASULULLAH menangis, hiba hatinya mendengar luahan hati seorang ayah mengenai anaknya. Lelaki tua itu berkata: “Ketika kecil, tanganku inilah yang memberimu makan. Engkau kehausan, akulah yang menuangkan. Jika kau sakit, tiada aku tidur sepanjang malam, sakitmu itu membuatku kerisauan. Tetapi kini selepas engkau mencapai tujuan. Kulihat dalam dirimu apa yang tidak kuharapkan. Kau balas dengan kekerasan dan kekasaran. Seolah-olah nikmat dan anugerah itu engkau yang berikan.”

Berlinangan air mata Rasulullah, baginda memanggil anak itu dan bersabda kepadanya: “Kamu dan semua milikmu, semuanya adalah milik ayahmu.” Hadis riwayat Ibn Majah, Imam Ahmad dalam al-Musnad, Ibnu Hibban dalam Sahihnya dan al-Baihaqi dalam al-Sunan.

Kasih sayang ayah dan ibu adalah hutang yang tidak pernah dapat dibayar oleh seseorang anak. Namun ramai anak yang cuba mengungkit setiap pemberian mereka kepada kedua-dua orang tua. Tindakan sebegitu pasti amat melukakan hati kedua-duanya. Tidakkah mereka sedar kehidupan yang dikecapi sekarang bermula daripada setitis air mani ayah dan keredaan seorang ibu menanggung derita dalam kehamilan. Jika dapat dihitung segala jasa mereka, sungguh dunia dan seisi ini takkan mampu membayar balik jasa mereka. 

Pada suatu hari, ketika Abdullah Umar melakukan tawaf di Baitullah. Ada seorang lelaki berasal dari Yaman memikul ibunya bertawaf dalam keadaan cuaca yang sangat panas. Peluh mengalir di wajahnya, dia amat keletihan. Orang itu bertanya kepada Ibnu Umar: “Apakah menurutmu aku membayar jasa ibuku atas apa yang ia lakukan untukku selama ini?” Ibnu Umar menjawab: “Demi Allah, tidak walaupun satu nafasnya.”

Bagaimana dengan berjuta nafas yang dihirup oleh seorang ibu demi bayi di dalam rahimnya? Sentuhannya, dakapan dan titisan air susunya? Sanggupkah kita membayar semua itu? Berapakah harga setiap suapan hasil titik peluh ayah? Harga didikan adab dan ilmu yang diajarkan kepada kita sehingga menjadikan kita mulia di mata manusia?

Rasulullah bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan ke atas kalian tiga perkara dan membenci tiga perkara: Ia mengharamkan derhaka kepada ibumu, membunuh anak perempuan, tidak mahu memberi tapi suka meminta. Ia membenci tiga perkara: Banyak bercakap kosong, banyak bertanya,” Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
Dr A’id al-Qarni ketika membahaskan mengenai hadis di atas berkata: Perbuatan derhaka kepada ibu dan ayah adalah seperti memutuskan daripada menziarahi kedua-duanya, tidak memberikan nafkah kepada mereka sedangkan mereka berhak mendapat nafkah, menyakiti hati mereka dan tidak memenuhi hak mereka.

Tiada siapa yang mahu dikatakan dirinya anak derhaka. Tetapi tindakan dan sikap yang ditunjukkan oleh seseorang anak itu adalah gambaran zahir yang tidak dapat disembunyikan. Pandangan manusia boleh menilai walaupun sifatnya subjektif. Apatah lagi pandangan Allah, siapakah yang boleh menyembunyikan aibnya? Penderhakaan itu akan membekas di hati ibu bapa dan akan dibawa sampai ke mati. Tentunya kita tidak sanggup melihat keadaan ini.

Ada yang berpendapat bahawa semua itu adalah akibat salah ibu bapa mendidik. Tetapi bukankah manusia bertambah dewasa dan tahu memilih yang benar dan salah? Untuk apa akal dan hati yang Allah cipta dan kurniakan jika bukan untuk memujuk ego supaya tunduk pada ajaran yang hak?
Ada pula yang berani berkata: “Atas sebab ibu bapa durhaka kepada anak, maka anak pun membalas!” Hati jenis apakah yang sanggup membalas kekhilafan ibu bapanya dengan kejahatan dan dendam? Maknanya jika ibu menampar wajah anak, anak pula berhak membalas tamparan itu ke wajah ibunya?

Kalau memang ibu bapa itu jahat, apakah mereka akan membiarkan diri kita hidup dari dulu lagi. Mereka boleh melepaskan tanggungjawab jika mahu. Mengapa disebabkan kesalahan yang sedikit, maka kebaikan yang terlalu banyak dilupakan?

Ibu bapa kita adalah sumber kekuatan diri kita. Iman tidak sempurna jika kita menggoreskan kebeningan hati mereka. Di tengah kesibukan dunia yang menenggelamkan hati dan perasaan anak, ada satu masa anak pasti merasa tersiksa bilamana dia mengingat kembali pelukan dan ciuman kasih ayah ibunya tetapi tiada peluang baginya untuk memohon ampun kepada kedua-duanya.
Kembalilah kepada mereka dengan hati yang ikhlas, sebelum segala berakhir dengan kesedihan dan penyesalan sepanjang hayat. “Kamu dan semua milikmu, semuanya adalah milik ayah ibumu”! Satu prinsip yang diajar oleh Rasulullah sebagai ingatan bahawa kebahagiaan anak itu bermula daripada hati ibu bapa yang ridho.

Sabtu, 25 Februari 2012

Anak, Amanah yang Berat


Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Dalam persoalan ini, kita harus meneladani sikap Nabi Zakaria AS dan Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini senantiasa berdoa kepada Allah Maha Pencipta. “Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami. Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74).
Republika ; Senin, 20 Maret 2006
Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Dalam persoalan ini, kita harus meneladani sikap Nabi Zakaria AS dan Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini senantiasa berdoa kepada Allah Maha Pencipta. “Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami. Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74). 

Setelah diberi amanah oleh Allah, Nabi Ibrahim di masa tuanya tidak pernah berhenti bersyukur. “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishak. Sungguh Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa.” (QS 14:39. Namun, akhir-akhir ini begitu sering kita mendengar, anak justru seringkali menjadi sasaran kemarahan orang tua. Begitu sering kita baca, kedua orang tua begitu teganya membuang bayi yang baru saja dilahirkan. Ada yang gampang saja memukul anak di luar kemampuan anak itu untuk menerimanya. Disulut rokok, diseterika, bahkan terakhir bisa kita baca, dipukul linggis sampai meninggal. Di sisi lain, ada juga orang tua yang menjadikan anak bagai barang rebutan. Naudzubillahi min dzalik! Sudah sedemikian tipiskah rasa sayang orang tua pada anaknya, padahal amanah mendidik dan merawat anak itulah yang pada saatnya harus dipertanggungjawabkan di mahkamah Allah, kelak.

Sebuah hadits Nabi berbunyi,” Seorang lelaki itu pemimpin bagi keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya itu.” (HR Bukhari-Muslim). Pasalnya, masih menurut hadits Rasulullah,” Setiap anak dilahirkan suci/fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan mereka yahudi, nasrani ataupun majusi.” (HR Bukhari-Muslim). 

Dalam soal mendidik anak, Rasulullah Muhammad SAW adalah sebaik-baiknya teladan. Pada diri Nabi ditemukan sosok pendidik yang menghargai anak. Rasulullah tidak jarang menyuapi anak-anak kecil dengan kurma yang sudah dimamahnya. Penuhnya hati Rasul dengan kasih sayang, membuat Beliau tidak marah ketika dalam shalatnya yang kusyuk punggung Beliau dinaiki cucunya, Hassan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau malah melamakan sujudnya, hingga cucunya itu turun. Usai shalat, kepada jamaah Rasul meminta maaf karena sujudnya agak lama. “Para jamaah, karena cucuku ini aku sujud agak lama. Dia berlari mengejarku dan naik ke punggungku ketika aku sedang salat (sujud). Aku khawatir akan mencelakakannya kalau aku bangun dari sujud.” (HR Ahmad). Subhanallah, apakah saat ini kita masih memiliki kasih sayang seperti itu?

Sikap kasih sayang dan kelembutanlah, sebenarnya, yang memungkinkan anak menjadi dekat. yang memudahkan mereka menerima petuah dan didikan orang tuanya. Orang tua yang miskin kasih sayang akan anaknya, menurut Nabi, akan mengundang murka Allah SWT. Aisyah RA berkata, telah datang seorang badui kepada Nabi. Nabi bertanya,” Apakah kamu suka mencium anakmu?” Dijawab, “Tidak.” Nabi bersabda,” … atau aku kuasakan agar Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu.” (HR Bukhari).

Kamis, 23 Februari 2012

Sebelum Mati Buktikan Cinta Kita Kepada Allah



"Sila Anda Putar dan Tonton Video Di Atas"

Kematian adalah sesutau yang pasti yang akan dijalani oleh makluk yang bernyawa termasuk kita semua, dab jika saatnya mati atau ajal telah tiba tidak akan bisa diundur ataupun dimajukan sedikitpun, Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. [QS.7:34].

Bahkan kalau ajal itu telah tiba, mau sembunyi di tempat manapun pasti yang namanya mati akan mendatangi, sebagaimana Allah berfirman dalam ayat berikut : Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh … [QS.4:78]


Begitu juga kita tidak akan bisa lari dari kematian yang sudah pasti akan menjemput kita ini, Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [QS.62:8]

Selasa, 14 Februari 2012

Jangan Terlalu Cepat Membuat Kesimpulan

 
Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih yang sangat cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.


Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak : “Kuda ini bukan kuda bagi saya”, katanya : “Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik.


Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat ?” Orang itu miskin dan godaan besar. Tetapi ia tidak menjual kuda itu.
Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. “Orang tua bodoh”, mereka mengejek dia : “Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan bahwa kamu akan di rampok.


Anda begitu miskin… Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga ? Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan”.


Orang tua itu menjawab : “Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu ? Bagaimana Anda dapat menghakimi ?”. Orang-orang desa itu protes : “Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan”.


Orang tua itu berbicara lagi : “Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti ?”


Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol. Kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih.


Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan : “Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkah. Maafkan kami”.


Jawab orang tua itu : “Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik.
Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkah?


Kalian hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana kalian dapat menilai ? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku ? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan ?


Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata.Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkah. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu”.


“Barangkali orang tua itu benar,” mereka berkata satu kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkah.


Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.


Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai. “Kamu benar”, kata mereka : “Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkah. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu… Sekarang kamu lebih miskin lagi.


Orang tua itu berbicara lagi : Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan.
Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkah atau kutukan ? Tidak ada yang tahu.


Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong”.


Maka terjadilah dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka.


Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.
“Kamu benar, orang tua”, mereka menangis : “Tuhan tahu, kamu benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkah. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya”.


Orang tua itu berbicara lagi : “Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini : anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkah atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui.


“Hanya Allah SWT yang Maha tahu segalanya”


Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian juga kebahagiaan hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.


Wallahu A’lam..
Wallahul Musta’an..