Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan
garis keturunan. Anak juga merupakan amanah, titipan harta yang paling
berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk
hati. Dalam persoalan ini, kita harus meneladani sikap Nabi Zakaria AS
dan Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini senantiasa berdoa kepada Allah Maha
Pencipta. “Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, pasangan dan
keturunan sebagai penyejuk hati kami. Jadikanlah kami pemimpin bagi
orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74).
Republika ; Senin, 20 Maret 2006
Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan
garis keturunan. Anak juga merupakan amanah, titipan harta yang paling
berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk
hati. Dalam persoalan ini, kita harus meneladani sikap Nabi Zakaria AS
dan Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini senantiasa berdoa kepada Allah Maha
Pencipta. “Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, pasangan dan
keturunan sebagai penyejuk hati kami. Jadikanlah kami pemimpin bagi
orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74).
Setelah diberi amanah oleh Allah, Nabi Ibrahim di masa tuanya tidak
pernah berhenti bersyukur. “Segala puji bagi Allah yang telah
menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishak. Sungguh Tuhanku
benar-benar Maha Mendengar doa.” (QS 14:39. Namun, akhir-akhir ini
begitu sering kita mendengar, anak justru seringkali menjadi sasaran
kemarahan orang tua. Begitu sering kita baca, kedua orang tua begitu
teganya membuang bayi yang baru saja dilahirkan. Ada yang gampang saja
memukul anak di luar kemampuan anak itu untuk menerimanya. Disulut
rokok, diseterika, bahkan terakhir bisa kita baca, dipukul linggis
sampai meninggal. Di sisi lain, ada juga orang tua yang menjadikan anak
bagai barang rebutan. Naudzubillahi min dzalik! Sudah sedemikian
tipiskah rasa sayang orang tua pada anaknya, padahal amanah mendidik dan
merawat anak itulah yang pada saatnya harus dipertanggungjawabkan di
mahkamah Allah, kelak.
Sebuah hadits Nabi berbunyi,” Seorang lelaki itu pemimpin bagi
keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang
kepemimpinannya. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya, dan akan
dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya itu.” (HR
Bukhari-Muslim). Pasalnya, masih menurut hadits Rasulullah,” Setiap anak
dilahirkan suci/fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan mereka yahudi,
nasrani ataupun majusi.” (HR Bukhari-Muslim).
Dalam soal mendidik anak, Rasulullah Muhammad SAW adalah
sebaik-baiknya teladan. Pada diri Nabi ditemukan sosok pendidik yang
menghargai anak. Rasulullah tidak jarang menyuapi anak-anak kecil dengan
kurma yang sudah dimamahnya. Penuhnya hati Rasul dengan kasih sayang,
membuat Beliau tidak marah ketika dalam shalatnya yang kusyuk punggung
Beliau dinaiki cucunya, Hassan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau malah
melamakan sujudnya, hingga cucunya itu turun. Usai shalat, kepada jamaah
Rasul meminta maaf karena sujudnya agak lama. “Para jamaah, karena
cucuku ini aku sujud agak lama. Dia berlari mengejarku dan naik ke
punggungku ketika aku sedang salat (sujud). Aku khawatir akan
mencelakakannya kalau aku bangun dari sujud.” (HR Ahmad). Subhanallah,
apakah saat ini kita masih memiliki kasih sayang seperti itu?
Sikap kasih sayang dan kelembutanlah, sebenarnya, yang memungkinkan
anak menjadi dekat. yang memudahkan mereka menerima petuah dan didikan
orang tuanya. Orang tua yang miskin kasih sayang akan anaknya, menurut
Nabi, akan mengundang murka Allah SWT. Aisyah RA berkata, telah datang
seorang badui kepada Nabi. Nabi bertanya,” Apakah kamu suka mencium
anakmu?” Dijawab, “Tidak.” Nabi bersabda,” … atau aku kuasakan agar
Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu.” (HR Bukhari).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar